“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.”
QS. Ar-Rum: 21
The Groom
Muhammad Yusuf Barokah, A.Md
Putra Pertama dari
Bapak Sudarsono & Ibu Sri Hartati
Kisah kami bermula dari sebuah pertemuan sederhana di salah satu perguruan pencak silat. Dari sana, kami mulai saling mengenal dan tidak butuh waktu lama hingga akhirnya memutuskan untuk menjalin hubungan. Seperti kebanyakan kisah, perjalanan kami tidak selalu berjalan mulus. Ada masa kami bersama, ada pula masa kami memilih untuk berpisah dan kembali menemukan jalan satu sama lain. Hingga akhirnya, sekitar tahun 2018, kami dipertemukan kembali dalam satu sekolah, SMK yang sama. Namun, tak lama setelah itu, kami kembali berpisah. Setelahnya, hari-hari kami berjalan tanpa pertengkaran dan tanpa banyak cerita tentang hubungan yang pernah ada.
Hingga tahun 2021, ketika kami mulai menjalani kehidupan sebagai mahasiswa, takdir kembali mempertemukan kami dalam sebuah cerita yang berbeda. Perlahan, komunikasi kembali terjalin dan rasa yang sempat tertinggal kembali hadir. Namun kali ini, perjalanan kami justru diwarnai lebih banyak ujian. Ada perbedaan, pertengkaran, keraguan, dan berbagai keadaan yang membuat kami kembali bertanya, apakah perjalanan ini akan benar-benar sampai pada tujuan yang sama. Kami belajar bahwa mencintai bukan hanya tentang bahagia bersama, tetapi juga tentang bertahan ketika keadaan tidak selalu sesuai harapan.
Sampai akhirnya, kehidupan membawa kami pada jarak yang berbeda. Pekerjaan membuat kami harus berada di tempat yang berjauhan dan menjalani hubungan jarak jauh. Jarak mengajarkan kami tentang rindu, kesabaran, kepercayaan, dan bagaimana tetap memilih satu sama lain meski tidak selalu bisa hadir secara langsung. Setelah begitu banyak pertemuan, perpisahan, pertengkaran, dan kesempatan untuk kembali, hari ini kami sampai pada satu titik yang mungkin dulu tidak pernah kami bayangkan. Bukan karena perjalanan kami selalu mudah, tetapi karena di setiap sulitnya, kami tetap menemukan alasan untuk pulang kepada satu sama lain. Dan hari ini, kami memilih untuk menjadikan seluruh perjalanan itu sebagai awal dari perjalanan yang baru—kali ini, bersama dalam satu ikatan pernikahan.