“Dan diantara ayat-ayat-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa nyaman kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu mawadah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”
Kami pertama kali dipertemukan di usia ketika segalanya belum memiliki nama,
saat pertemuan masih terasa sederhana dan belum dimengerti artinya.
Satu tahun saling mengenal, lalu hidup membawa kami berjalan ke arah masing-masing.
Bukan untuk memisahkan, melainkan memberi jarak agar kami tumbuh sendiri.
Di antara jarak itu, kami menjaga hubungan dengan cara yang paling dewasa,
memberi ruang, tanpa saling menuntut, tanpa menggenggam terlalu erat.
Ada kesepahaman yang tak perlu diucapkan: bahwa kami dipersilakan tumbuh
menjalani kehidupan masing-masing, dan percaya jika waktunya tepat,
jalan kami akan saling menemukan.
Hingga saatnya tiba, takdir mempertemukan kami kembali.
Kami tak lagi sekadar bertemu, kami memilih.
Dan kami sepakat bahwa cinta bukan sekadar rasa,
melainkan keputusan sadar untuk berjalan bersama
dan pulang pada orang yang sama, selamanya