Pertemuan mereka bukan sesuatu yang direncanakan. Hanya kebetulan sederhana di antara ribuan langkah yang lalu lalang. Tapi dari yang biasa itu, tumbuh rasa yang tak bisa diabaikan. Sayangnya, bersama rasa ikut tumbuh ragu. Mereka saling mendekat dengan harapan, lalu menjauh karena takut. Terjebak dalam ego dan luka masing-masing. Berkali-kali di ujung kata menyerah, tapi berkali-kali pula hati memilih untuk tetap tinggal.
Di tengah tarik ulur yang melelahkan, satu hal tak pernah putus: doa. Diam-diam mereka saling menyebut nama, meminta petunjuk pada Pemilik Hati. Meminta jalan terbaik, bahkan jika jalannya harus berpisah. Karena cinta yang dewasa tahu, yang terbaik belum tentu yang kita mau.
Lalu pelan-pelan ego mereda. Keyakinan yang dulu rapuh jadi kokoh. Doa-doa yang hanya berupa harap, dijawab Tuhan dengan cara paling indah. Kini mereka berdiri dalam satu janji suci. Bukan karena perjalanannya mudah, tapi karena keduanya tidak pernah berhenti percaya. Bahwa jika Tuhan sudah mempertemukan, maka Dia juga yang akan mempersatukan.