“Dan diantara ayat-ayat-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa nyaman kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu mawadah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”
QS. Ar-Rum: 21
The Bride
Cinta Devina Putri
Putri Pertama dari 3 Bersaudara dari
Bapak Devit Hartanto & Ibu Ina Suhendra
Section 1: Awal Pertemuan
Dari “Selamat datang di penerbangan kami” hingga akhirnya “Selamat datang di hidupku.” ✈️🤍
Cerita kami bermula pada November 2025, dalam penerbangan Makassar–Jayapura.
Hari itu aku sedang bertugas sebagai pramugari, sementara dia duduk sebagai salah satu penumpang. Tidak ada percakapan panjang ataupun pertemuan yang istimewa. Semuanya terasa biasa saja—setidaknya menurutku saat itu.
Aku tidak pernah menyangka bahwa seseorang yang awalnya hanya menjadi bagian kecil dari hari kerjaku, perlahan akan menjadi bagian penting dalam hidupku.
Section 2: Perjalanan Kedekatan
Setelah penerbangan selesai, dia ternyata berhasil menemukan media sosialku dan mulai menghubungiku.
Awalnya kami hanya bertukar pesan dan membicarakan hal-hal sederhana. Namun, tanpa terasa obrolan singkat berubah menjadi percakapan setiap hari. Dari yang awalnya sekadar saling mengenal, kami mulai merasa nyaman untuk berbagi cerita, bercanda, dan menjadi diri sendiri.
Kedekatan itu terus tumbuh hingga akhirnya, pada Februari 2026, kami memutuskan untuk menjalin hubungan.
Seperti hubungan pada umumnya, perjalanan kami juga tidak selalu mudah. Ada perbedaan, salah paham, dan cerita masa lalu yang sempat menjadi ujian. Ada saatnya kami kecewa, lelah, bahkan hampir menyerah.
Namun, setiap masalah justru membuat kami semakin mengenal satu sama lain. Kami belajar bahwa mencintai bukan hanya tentang menikmati hari-hari yang menyenangkan, tetapi juga tentang mau mendengarkan, memaafkan, memperbaiki diri, dan tetap memilih satu sama lain ketika keadaan sedang tidak baik-baik saja.
Section 3: Menuju Selamanya
Sampai hari ini, rasanya masih sulit dipercaya bahwa penumpang yang kutemui dalam satu penerbangan kini menjadi orang yang akan menemaniku menjalani kehidupan.
Dulu tugasku hanya memastikan dia tiba dengan selamat di tempat tujuan. Sekarang, kami memilih untuk melanjutkan perjalanan bersama—bukan lagi sebagai pramugari dan penumpang, melainkan sebagai dua orang yang ingin pulang ke tempat yang sama.
Kalau ada yang bertanya, “Kok bisa sampai menikah?”
Mungkin jawabannya tidak rumit.
Semuanya berawal dari sebuah penerbangan Makassar–Jayapura, dilanjutkan dengan satu pesan sederhana, lalu tumbuh melalui banyak percakapan, perbedaan, tawa, dan air mata.
Kami mungkin tidak bertemu dengan cara yang direncanakan. Namun, dari pertemuan yang tidak disengaja itu, kami menemukan seseorang yang ingin kami pilih untuk selamanya.
Dan kini, penerbangan itu telah selesai—tetapi perjalanan kami yang sebenarnya baru saja dimulai. ✈️💍🤍