Jika ada yang bertanya sejak kapan kisah ini akan diceritakan, mungkin jawabannya adalah sejak kami duduk di satu kelas yang sama semasa SMA. Saat itu, kami hanyalah dua orang teman biasa, tanpa pernah tahu bahwa kelak, dua orang dari kelas yang sama akan menjadi sepasang yang selamanya. Tahun 2018, kami lulus dan melanjutkan perjalanan di kota yang berbeda—Ardi di Jember, sementara saya di Jakarta. Hingga suatu waktu, sebuah reuni kecil kembali mempertemukan kami di Jakarta. Pertemuan yang sederhana, namun entah bagaimana meninggalkan sesuatu yang perlahan tumbuh menjadi rasa.
Dan mungkin memang benar, terkadang, beberapa perasaan tidak datang dengan suara yang lantang. Ia tumbuh diam-diam, pelan-pelan. Hingga empat bulan kemudian, tepat di tanggal yang katanya cantik, Ardi dengan caranya yang jenaka akhirnya bertanya, “Mumpung tanggalnya cantik nih… aku mau nggak jadi pacar kamu?” Catat tanggalnya, 9 November 2019 (91119)—hari ketika kisah yang sebelumnya hanya hidup di antara percakapan dan rasa penasaran, akhirnya memiliki sebuah nama.
Tujuh tahun berlalu, ada begitu banyak hal telah kami lewati. Kami tumbuh bersama, meski tidak selalu berada di tempat yang sama. Hingga kini, kami tiba di titik ini. Titik di mana kami memutuskan untuk mengikat janji seumur hidup dan menulis bab-bab berikutnya bersama—tentang sebuah rumah yang akan kami sebut pulang, tentang kehidupan yang akan kami jalani berdua, dan tentang hari-hari yang, semoga, akan selalu membawa kami kembali kepada satu sama lain. “Sebab di antara sekian puluh, ratus, bahkan ribu, jika satu itu selalu kau, maka untukku, itu cukup.”